Senin, 30 Januari 2012

IP dan Kepercayaan

Bismillahirrohmanirrohiim

Sebagai mahasiswa fkg Unpad, sungguh sangat penasaran bukan dengan IP (Indeks Prestasi) yang akan kita dapati? Ya, mahasiswa fkg Unpad belum mendapati nilai IP semester I nya. Buat saya yang memiliki sifat tidak suka melihat nilai pada awalnya berterima kasih kepada dosen-dosen fkg, namun lama-lama saya berpikir sebagai mahasiswa saya harus menerima kenyataan, baik untuk hasil yang memuaskan atau belum memuaskan. Semua untuk bahan perbaikan kedepannya.

Dan saya masih penasaran dengan nilai IP perdana saya.

Mungkin jika tak memuaskan, itu berarti saya harus banyak memperbaiki pola belajar saya.
Jika memuaskanpun menjadi amanah buat saya untuk mempertahankannya. Wallahhu'alam

Namun kita harus percaya terhadap kekuasaan yang Allah miliki.

Seperti pelajaran yang saya selalu ingat dari adik dan juga sahabat saya di SMA, Amanatulhay Pribadi (lagi-lagi). Memang saya tak bosan-bosan mempelajari apa yang ada di sekeliling saya. Jazakillah adikku. Dimulai saat kelas XII dimana SNMPTN undangan menghampiri. 10 orang di kelasku di undang, tak terkecuali adikku ini. Dia memang memiliki nilai stabil diperingkat pertama, namun dia selalu rendah hati. Ketika kami memilih pilihan kami masing-masing, dia memilih FKUI dan FK Unpad. Namun pihak sekolah meminta maaf agar para peserta SNMPTN Undangan tidak memilih UI karena sekolah saya salah memasukan data hingga akhirya adikku memilih FK Unpad pada pilihan pertamanya dan STEI ITB pada pilihan keduanya. Adikku sepertinya sudah tawakal akan pilihannya itu, dan tersebarlah bahwa jika UI, ITB, atau UGM diletakkan pada pilihan kedua mereka pasti akan menolak pemilihnya. Namun, adikku yang sudah tawakal itu tetap menunggu pengumuman SNMPTN Undangan sebelum daftar SNMPTN tulis. Dan Allahhu Akbar, adikku diterima di STEI ITB. Sederhana sekali yang adikku percayai itu. Bahkan 2 orang dari sekolah kami yang diterima di SNMTPN Undangan selain adikku adalah Amatulhay Pribadi, saudara kembarnya.
Uhibbukum fillah adikku dan Ama, maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang telah kau dustakan?

Ya setelah berikhtiar, haruslah kita berhusnuzhon pada Allah akan apa yang akan menjadi keputusannya nanti. Maaf sedang galau IP, tapi ga papa kan ya? hhe:p

Tidak ada komentar:

Posting Komentar